Trusted Premix: Kolaborasi Untuk Jaminan Kualitas dan Harga Yang Bersaing

Trusted Premix: Kolaborasi Untuk Jaminan Kualitas dan Harga Yang Bersaing
September 1, 2021 Nutricell
In Uncategorized

Nutricell dan DSM, dua pemimpin industri nutrisi dan kesehatan ternak berkolaborasi untuk menghasilkan produk premix yang terpercaya, yaitu premix dengan kualitas dunia dan harga terjangkau.

Apakah premix itu ? mungkin beberapa orang menyebutkanya sebagai produk yang mengandung campuran vitamin, mineral atau bahan nutrisi lainnya. Namun Nutricell dan DSM memperkenalkan premix sebagai solusi dalam proses produksi pakan, artinya premix bukan lagi produk, namun “cara” peternak atau pabrik pakan ternak untuk mencapai kualitas dan efisiensi yang optimal.  Premix adalah proses pencampuran nutrisi mikro seperti vitamin, mineral, feed additives dan feed supplement lainnya, bahkan medicated.  Hal ini dikarenakan proses produksi premix berbeda dengan proses produksi pakan, dimana ketepatan dan akurasi adalah kunci dalam produksi premix

DSM sebagai pionir industri vitamin, dan pemimpin bisnis nutrisi dan kesehatan hewan dunia, bekerjasama dengan Nutricell sebagai inovasi dan layanan pelanggan, menjalin kerjasama untuk menghadirkan premix dengan jaminan kualitas dan harga bersaing yang disebut Trusted Premix.    Trusted Premix membawa jaminan kualitas DSM dan layanan pelanggan Nutricell yang diharapkan dapat memberikan solusi nutrisi dan kesehatan hewan di Indonesia

Pengenalan Trusted Premix dilakukan melalui  ‘Online Bussiness Conference’ dengan mengundang para pakar di bidangnya melalui aplikasi zoom pada Rabu, (18/8).  Dimana pada kesempatan ini, Ir. Suaedi Sunanto, SPt. MBA, CEO of PT Nutricell Pasific bertindak sebagai moderator acara, menghadirkan Ir. Suryo Suyanta selaku Layer Expert dan Konsultan di Indonesia. Ia memaparkan persentasi mengenai “The Science and Art of Layer Management”. Suryo menjelaskan mengenai perkembangan genetik ayam layer adalah hasil seleksi genetik, yang dikerjakan secara bertahap. “Dibutuhkan waktu sekitar lima tahun, untuk mendapatkan pure line atau ayam yang bisa di ternak oleh peternak sekarang ini,” jelasnya.

Menurutnya, Secara umum ada lima genetik ayam petelur yang beredar di Indonesia, diantaranya yaitu Lohmann, Isa, Hisex, Novogen, dan Hyline. Daris semua jenis bibit tersebut memang memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Model seleksi genetik dilakukan dengan cara mengambil penampilan genetik yang bagus seperti dalam segi daya hidup, tingkah laku, kualitas telur, jumlah telur, serta konversi pakan.

“Semisal dalam proses seleksi ada tingkah laku yang kurang bagus, seperti kanibal, maka otomatis ayam itu tidak diikutkan pada tahap seleksi berikutnya. Akhir-akhir ini juga sudah ditemukan genetik ayam petelur yang bisa menyebabkan bau amis pada telur. Melalui metode seleksi genetik itulah akhirnya penampilan genetik penyebab bau amis ditiadakan, sehingga telur produksinya tidak berbau amis. Percayalah, bahwa proses seleksi genetik yang dilakukan adalah bertujuan untuk menghasilkan ayam dengan performa terbaik, dan mudah dalam manajemen pemeliharaannya,” tegas Suryo

Terdapat keunikan tersendiri dalam memelihara ayam petelur di Indonesia, di iklim tropis seringkali cuaca lingkungan berubah secara tidak menentu, dan sering terjadi heat stress. Kondisi ini berpotensi menyebabkan ayam harus berusaha lebih keras melepas panas akibat kondisi panas berlebih di dalam kandang, sehingga menyebabkan respon panting pada ayam. Respon panting yang dilakukan oleh ayam berpeluang sebagai jalan untuk kehilangan energi. Sebab, untuk membuang 1 ml air memerlukan energi sebesar 540 kalori, kehilangan energi inilah yang menyebabkan turunnya produksi.

Pengaruh suhu panas saat ayam sedang berproduksi adalah otot jantung menjadi kaku, kalsium tidak mampu terserap, bahkan cenderung terbuang menjadi feses, sehingga ketersediaan kalsium dalam darah berkurang. Akibatnya, proses kalsifikasi menjadi terganggu, implikasinya kerabang telur menjadi tipis, produksi telur menjadi turun.

“Secara umum, jika terjadi perubahan cuaca seperti suhu dan kelembapan maka akan berpengaruh pada metabolisme, akibatnya nutrisi yang ada di ayam tidak cukup, berat badan menjadi turun, produksi turun, daya tahan tubuh menurun, pada tingkat yang lebih ekstrim bisa menaikkan tingkat kematian,” terangnya.

Dengan demikian, beternak ayam petelur di wilayah tropis, memiliki tantangan tersendiri, lewat manajemen pemeliharaan yang baik, agar produksi tetap terjaga. Lebih lanjut menurut Suryo, ayam makan dengan jumlah yang cukup banyak pada masa 4-6 jam sebelum mati lampu, serta saat midnight feeding dengan rentang waktu sekitar 1,5 – 2 jam.

Pada masa awal makan, ayam lebih banyak mengkonsumsi butiran seperti jagung. Namun, ketika midnight feeding, ayam lebih cenderung untuk konsumsi mineral terutama kalsium, dimana kalsium ini sangat dibutuhkan untuk proses pembentukan cangkang telur. Proses kalsifikasi memerlukan bahan sebanyak 70 persen dari nutrisi pakan, sedang yang 30 persen adalah dari tulang.

Fungsi dan peran Trusted Premix lebih dalam dijabarkan oleh Prapatantio Teteg Pringgodigdoyo yang mewakili DSM Nutritional Product Manufacturing Indonesia dalam persentasinya memaparkan mengenai ‘Trusted Premix: Premix Quality At Affordable Cost”. Ia mengungkapkan bahwa pentingnya peran nutrisi untuk pembentukan tulang “Hal ini berpengaruh pada kadar kalsium dalam tulang yang cukup, maka akan membantu pembentukan cangkang telur. Dengan cangkang telur yang bagus, akan melindungi telur dengan optimal,” terangnya.

Oleh karena itu, dibutuhkan penambahan vitamin dalam komposisi pakan. “Pemberian vitamin, khususnya vitamin D3 dalam bentuk calcidiol pada ternak akan berdampak pada metabolisme yang cukup signifikan, istilahnya pemberian mikronutrient ini akan mengoptimalkan macro importance yang akan berdampak pada metabolisme secara luas,” tegasnya.

Dalam membantu kalsifikasi dibutuhkan vitamin D3 yang cukup, sehingga proses kalsifikasi dapat berjalan dengan baik, proses masuknya vitamin D3 pada umumnya adalah harus melalui hati dan ginjal. Dan sesuai dengan perkembangan genetic ternak, DSM  memngembangkan vitamin D3 yang dapat melewati proses penyerapan dalam hati, sehingga vitamin D3 tersebut dapat bekerja optimal, hal ini merupakan salah satu contoh, inovasi DSM guna menjawab tantangan kebutuhan vitamin bagi ternak unggas

Pembeda berikutnya dari produk DSM adalah formulasi vitamin, guna meningkatkan stabilitas dan bioavailabilitas vitamin serta kemudahan dalam penanganan dan penyimpanan, sehingga lebih memungkinkan untuk diterapkan di industri, tersedia dalam bentuk kering untuk premix dan pakan, juga dalam bentuk larut air yang diperuntukkan untuk pemberian lewat air. Selanjutnya sebagai bioavailability, yang memperkuat bioavailabilitasnya, serta melindungi pencernaan pada saat berada di saluran pencernaan. Selanjutnya, Mixability dimana pada saat dicampur bisa tercampur dengan sempurna, dengan tingkat homogenitas yang tinggi.

Sementara itu masih dalam kesempatan yang sama, Wira Wisnu Wardani., PhD selaku Director of PT Nutricell Pacific menginformasikan bila akhir-akhir ini ada tren penurunan harga pasar asam amino di lapangan. Namun, berbeda dengan harga vitamin yang cenderung stabil. hal ini bisa dipahami, karena semua siklus fisiologis membutuhkan vitamin.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan, beternak ayam petelur di iklim tropis ada potensi kehilangan energi akibat temperatur yang cukup tinggi, yang juga berakibat pada stres oksidatif. Akibat stres ini pada awalnya akan terjadi penumpukan radikal bebas di sel, serta rusaknya membran sel.  “Pada tahap selanjutnya akan terjadi gangguan pada tingkat organ, akibat lanjutan performa produksi dari ayam juga mengalami masalah, alternatifnya adalah dengan menambahkan premix, dimana DSM Bersama Nutricell menjadi premix yang terpercaya yang menguasai 13 persen market share untuk premix,” ungkap Wira.

Sebagai dukungan atas konsep Trusted Premix, Nutricell dalam melaksanakan bisnisnya telah melengkapi berbagai kebutuhan seperti fasilitas laboratorium yang lengkap, sampai pada pendeteksian logam berat, serta dengan pengembangan aplikasi NuVet yang terus diperbarui dengan kerjasama dengan pihak Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB, Bogor dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Nutricell akan mencamtumkan “Logo Trusted Premix”, sebagai bentuk produk atas kolaborasi antara DSM dan Nutricell.

Selain itu pihak Nutricell juga sudah menerapkan ISO 22000 dan CPOHB dari Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian. “Sekarang kami sedang mengembangkan sistem skor untuk mengukur kesehatan saluran pencernaan, dengan nama Gut Health Compas (GHC), sistem ini akan berhasil dengan baik, jika didukung dengan data yang valid.” pungkasnya. Hal ini menjadi peran Nutricell untuk mewujudkan Trusted Premix, sebagai solusi berkualitas untuk industri peternakan nasional dengan harga yang terjangkau.