Manajemen Koksidiosis Pada Era Post-AGP

Manajemen Koksidiosis Pada Era Post-AGP
Juli 18, 2021 Nutricell
In Uncategorized

Manajemen Koksidiosis Pada Era Post-AGP

drh. Nofitra Dewi Suparno P.

Technical Manager

PT. Nutricell Pacific

nofitra.dewi@nutricell.co.id

 

Pelarangan penggunaan Antibiotic Growth Promoter atau AGP dengan diterbitkannya Permentan no. 14 tahun 2017 dan juga PP no 26 tahun 2021 melahirkan era baru dalam pengendalian penyakit unggas. Hal ini menyebabkan perubahan strategi dalam pengendalian penyakit, khususnya penyakit koksidiosis. Pengobatan koksidiosis dan penyakit lainnya harus didasarkan pada minimal dua komponen diagnosa, dan juga dengan resep dokter hewan sesuai dengan Petunjuk Teknis Penggunaan Obat Hewan Dalam Pakan Untuk Tujuan Terapi yang terbit pada tahun 2018.

Koksidiosis merupakan lima penyakit teratas yang menyerang unggas terutama ayam broiler dan juga penyakit parasit utama pada broiler. Penyakit ini disebabkan oleh parasit protozoa genus Eimeria. Penurunan produktivitas yang disebabkan oleh gangguan pertumbuhan dan bahkan kematian merupakan akibat utama dari koksidiosis. Diperkirakan 95,6 – 98,1 persen kerugian ekonomi pada industri broiler komersial di dunia disebabkan oleh koksidiosis (Bera et al., 2010), dengan estimasi angka sebesar 2,3 milliar Euro per tahunnya, dimana 70 persen dari total biaya ini disebabkan oleh infeksi subklinis yang berdampak pada penambahan berat dan tingkat konversi pakan (De Gussem, 2007). Oleh karena itu, optimalisasi evaluasi dan kontrol terhadap koksidiosis yang dilakukan sesuai dengan peraturan pemerintah akan menguntungkan bagi industri broiler. Koksidiosis merupakan penyakit endemik pada setiap peternakan ayam, sehingga strategi pengendalian koksidiosis harus dilakukan sejak DOC baru tiba di kandang.

Strategi Pengendalian Koksidiosis

Pada dasarnya koksidiosis merupakan self-limiting disease atau penyakit yang dapat sembuh sendiri karena timbulnya respon imun dari tubuh. Jika ayam terpapar oosista koksidia dalam jumlah yang terkontrol, tubuh ayam dapat menghasilkan respon imun yang akan optimal setelah 3-4 kali paparan. Hal tersebut merupakan dasar dari strategi pengendalian koksidiosis dengan vaksinasi pada breeder dan layer.

Berbeda dengan breeder dan layer, penggunaan pakan terapi pada broiler saat ini masih menjadi metode pengendalian koksidiosis yang paling strategis. Hal ini disebabkan karena umur pemeliharaan ayam broiler yang cenderung lebih pendek di Indonesia. Ionophore dan chemical anticoccidial masih menjadi molekul utama yang digunakan untuk terapi koksidiosis, diikuti dengan natural anticoccidial yang merupakan molekul herbal non-antibiotik sebagai pendatang baru dalam antikoksidia.

Sesuai dengan peraturan pemerintah, molekul ionophore dikategorikan sebagai antibiotik sehingga penggunaannya harus dilatarbelakangi hasil diagnosa yang dapat dipertanggungjawabkan dan juga resep dokter hewan, dengan waktu pengobatan maksimum 2 × 7 hari. Berbeda dari ionophore, molekul chemical tidak diatur lama penggunaanya tetapi harus disesuaikan dengan waktu henti obat dari masing-masing molekul, dan untuk natural anticoccidial dapat digunakan secara bebas karena berasal dari herbal dan tidak ada waktu henti obat.

Perlu ditekankan bahwa pembentukan resistensi terhadap antikoksidia terutama jenis chemical terjadi dengan sangat cepat, karena itu pemilihan molekul yang digunakan harus tepat sasaran. Rotasi ataupun shuttle program sangat penting dilakukan guna mencegah terjadinya hal tersebut.

Evaluasi Koksidiosis

Sebagai tolak ukur dari keberhasilan program pengendalian koksidiosis, evaluasi di setiap periode pemeliharaan wajib untuk dilakukan. Evaluasi koksidiosis dilakukan dengan metode lesion scoring untuk mengetahui adanya paparan koksidia yang diperlihatkan dengan adanya lesi di usus terhadap tiga spesies utama Eimeria, yaitu Eimeria acervulina, Eimeria tenella, dan Eimeria maxima. Selain itu, dilakukan juga uji laboratorium terhadap Oocysts Per Gram (OPG) untuk melihat tingkat replikasi Eimeria pada feses ataupun litter.

Grafik data rerata lesion score koksidia yang dikumpulkan oleh tim Nutricell Pacific (2020)

Grafik Oocysts per gram litter terhadap umur (Kling et al.,1989)

Solusi Nutricell untuk Kontrol Koksidiosis

PT Nutricell Pacific menghadirkan solusi untuk pengendalian koksidiosis dengan bekerja sama dengan beberapa partner, diantaranya:

1. Phibro AHC

Nutricell bekerja sama dengan Phibro dari Amerika Serikat dalam menghadirkan produk Avensin Granular 40, yang merupakan ionophore anticoccidial dengan konten sodium monensin 40% dengan nomor registrasi KEMENTAN RI no. I. 20056430 PKS

2. Zamira Life Sciences

Nutricell bekerja sama dengan Zamira dari Australia dalam menghadirkan produk chemical anticoccidial seperti Zamuril 5 yang mengandung diclazuril 0,5% dengan nomor registrasi KEMENTAN RI No. I. 20036349 PKS dan beberapa produk dalam proses registrasi yang mengandung robenidine dan decoquinate.

3. Wisium

Nutricell bekerja sama dengan Wisium yang merupakan anak perusahaan dari ADM Animal Nutrition dari Amerika Serikat dalam menghadirkan produk natural anticoccidial (dalam proses registrasi)

Nutricell memberikan solusi menyeluruh untuk mengontrol koksidiosis dari awal chick-in sampai dengan ayam panen melalui beberapa produk antikoksidia baik ionophore, chemical dan natural anticoccidial. Produk yang dihadirkan oleh PT Nutricell Pacific akan didukung dengan technical service di lapangan mulai dari proses diagnosa dengan lesion scoring, pemeriksaan OPG, pemilihan antikoksidia dan juga penerbitan resep dokter hewan, sehingga penggunaan antikoksidia dilakukan tepat guna dan dengan justifikasi yang jelas sesuai dengan Permentan no. 14 tahun 2017. Dalam melengkapi keamanan dan ketertelusuran penggunaan obat hewan sesuai dengan Petunjuk Teknis Penggunaan Obat Hewan Dalam Pakan Untuk Tujuan Terapi, kami PT Nutricell Pacific menggunakan apilkasi NUVET app yang dapat didownload pada Google Play.

Untuk informasi lebih lanjut, harap menghubungi :

PT. NUTRICELL PACIFIC

Cibis Nine 12th Floor Unit G1

Jl. TB Simatupang No. 2 JAKARTA 12560

Nutricell@nutricell.co.id

www.nutricell.co.id