Toxicell: Solusi Mikotoksin pada Pakan Ikan

Toxicell: Solusi Mikotoksin pada Pakan Ikan
November 14, 2020 Nutricell
In Uncategorized

Toxicell: Solusi Mikotoksin pada Pakan Ikan

Oleh: Ahmad Yazid Latif | Aquaculturist at Aquacell Indo Pacific (Ahmad.yazid@aquacell.co.id)

 

Sangat beracun bagi hati dan ginjal, meninggalkan residu, menghambat sintesa protein dan lemak, penyebab gangguan saluran reproduksi, penyebab penyakit kuning (pada ikan nila), mengganggu pertumbuhan, hingga menyebabkan kematian. Itulah beberapa efek buruk yang diakibatkan oleh Mikotoksin. Selain itu mikotoksin, khususnya aflatoxin bersifat karsinogen. Sifat karsinogen tersebut muncul ketika derivat epoksida masuk ke nucleus dan berikatan dengan materi genetik.

Mikotoksin itu sendiri merupakan senyawa hasil metabolit sekunder dari golongan fungi. Adapun beberapa jenis mikotoksin yang paling banyak ditemukan diantaranya Aflatoxin, Ochratoxin A, Fumonisin, Zearalenone, dan Deoxynivalenol. Sedangkan fungi yang memproduksi mikotoksin tersebut diantaranya dari jenis Aspergillus, Fusarium, dan Penicilium.

Fungi-fungi tersebut banyak tumbuh pada hasil-hasil pertanian. Meski kebanyakan fungi tumbuh pada area lembab, namun terdapat berapa jenis fungi seperti Aspergillus dan Fusarium mampu tumbuh pada substrat dengan kandungan air yang minim.

 

Akuakultur dapat Terpapar Mikotoksin

Pakan ikan tersusun dari berbagai macam bahan baku termasuk bahan baku yang berasal dari tumbuhan seperti Corn Gluten Meal, Soybean Meal, Dedak, Bekatul, dan DDGS. Bahan-bahan inilah yang rentan ditumbuhi oleh fungi yang memproduksi mikotoksin.

Pakan ikan diproduksi dengan menggunakan suhu dan tekanan tinggi namun memiliki potensi tinggi untuk terkontaminasi mikotoksin ketika pakan berada di gudang penyimpanan. Untuk daerah Asia Tenggara, kandungan mikotoksin dalam pakan ikan adalah sebagai berikut.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa beberapa jenis fungi seperti Aspergillus dan Fusarium dapat tumbuh pada substrat dengan kandungan air minim seperti pada saat pakan disimpan dalam gudang penyimpanan. Pakan yang mengandung mikotoksin tidak hanya menghambat pertumbuhan ikan budidaya, tetapi juga dapat menjadi awal masuknya berbagai penyakit yang berujung pada kematian.

Pada konsentrasi 500 – 5.000 ppb mikotoksin (jenis Aflatoksin) dapat menyebabkan kematian organisme budidaya baik ikan maupun udang. Bahkan pada konsentrasi 20 ppb pun dapat menyebabkan tumor pada ikan apabila terpapar dalam jangka panjang, sedangkan pada udang yaitu 50 ppb. Di bawah level tersebut, masih bisa ditoleransi oleh organisme budidaya.

 

Mengurangi Efek Negatif Mikotoksin

Untuk mengatasi mikotoksin yang telah terlanjur ada pada bahan baku, bisa menggunakan Toxicell yang merupakan toxin binder berupa bentonite. Toxin binder sendiri merupakan imbuhan pakan (feed additives) yang mampu mengikat mikotoksin pada pakan sehingga mengurangi efek negatif yang disebabkan oleh mikotoksin. Sedangkan bentonite itu sendiri terkenal akan kemampuannya mengatasi mikotoksin.

 

Bentonite mampu mengatasi mikotoksin dengan cara menghalangi permukaan intestine ikan dalam berinteraksi dengan mikotoksin. Selanjutnya bentonite akan menyerap dan mengunci mikotoksin di dalam pori-porinya. Mikotoksin yang terperangkap kemudian diekskresikan bersamaan dengan feses.

 

Penelitian menunjukan bahwa dengan penambahan 2% Toxicell component mampu menurunkan kadar aflatoksin dalam hati dan ginjal hingga 80%. Angka tersebut menunjukkan efektivitas Toxicell dalam mengatasi permasalahan mikotoksin yang banyak ditemukan pada pakan ikan budidaya.

 

Tentang Nutricell

PT Nutricell Pacific bersama dengan PT Aquacell Indo Pasifik sebagai penyedia solusi akuakultur yang inovatif dan produktif. Bekerjasama dengan berbagai perusahaan ternama dunia, Nutricell mendapatkan akses penelitian dan pengembangan nutrisi dan akuakultur dunia.

Nutricell berkomitmen menghadirkan produk yang berkualitas dan berkesinambungan, artinya produk yang Nutricell hadirkan dapat memenuhi harapan konsumen. Produk Toxicell merupakan produk terpercaya karena diproduksi dengan menganut gugus kendali mutu tertinggi berdasarkan prinsip HACCP yang berkesinambungan, yang berarti Aquacell ikut bertanggung jawab terhadap kelestarian bisnis, lingkungan dan manusia. Toxicell terdaftar pada Kementrian Kelautan dan Perikanan dengan No. KKP RI NO. D 1910432 PBS.