Teknis Air Sumber Kehidupan

Teknis Air Sumber Kehidupan
Maret 8, 2021 Nutricell
In Uncategorized

Air Sumber Kehidupan

Sebagai salah satu syarat utama bagi berlangsungnya proses kehidupan. Kekurangan sebanyak 20 % dari kebutuhan saja akan menurunkan performa broiler secara nyata pada laju pertumbuhan dan efisiensi penggunaan pakan

Air (H2 O) merupakan unsur yang vital guna menunjang kelang- sungan hidup dari makhluk hidup, termasuk broiler (ayam pedaging). Peran broiler dalam menghasilkan protein hewani berupa daging, tidak luput dari sejumlah air yang dikonsumsinya. Kebutuhan air untuk konsumsi broiler yaitu sebesar 60 – 70 %, sedangkan sisanya adalah kebutuhan akan zat kasar yang terpenuhi dari pakan. Hal ini disampaikan Taopik Robina, Head Operation PT Indojaya Agrinusa Medan, Sumatera Utara. “Air ber- peran sangat penting untuk menunjang kehidupan broiler, sehingga air dengan kuantitas dan kualitas yang baik harus terpenuhi,” tegas pria yang kerap disapa Opik ini.

Opik mengatakan mitra peternak broiler mendapatkan air melalui tanah atau disebut air tanah, sedangkan pada internal farm menggunakan sumber air yang berasal dari sumur bor. Penggunaan penyaringan air (filter) cukup bervariasi, tergantung dari kualitas air di setiap lokasi farm. “Jika airnya baik secara fisik maupun kimia, tidak perlu melalui proses filtrasi. Air bisa langsung diklorinasi saja sebanyak 3 – 5 ppm. Namun, pada kondisi dan daerah tertentu yang airnya secara fisik dan kimianya kurang baik, maka dilakukan filtrasi terlebih dahulu,” jelas dia.

Penyaring yang digunakan untuk proses filtarsi ini masih tradisional, yaitu menggunakan tumpukan pasir, kerikil, ijuk, batu bata, arang, batu bata lagi dan ijuk atau lebih mudah disebut PKI BABI (Pasir, Kerikil, Ijuk, Batu Bata, Arang, Batu Bata, dan Ijuk). Penyaring tersebut dinilai Opik cukup baik, guna mengatasi air yang kualitas fisik dan kimianya jelek. “Contohnya air yang keruh dan mengandung Fe, dapat disaring dengan PKI BABI lalu diendap- kan selama kurang lebih 24 jam di bak penampungan,” ujarnya.

Tidak berbeda dengan Sandy Slamet Nugraha, peternak broiler yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat ini memanfaat- kan sumber air tanah untuk konsumsi broiler serta perawatan kandangnya. Air tanah yang digunakan sebagai minum broiler, diberi perlakuan khusus yaitu diberi klorin atau iodin. “Ada perlakuan khusus pada air tanah yang digunakan untuk konsumsi broiler. Terkadang menggunakan klorin atau pun iodin. Filtrasi juga dilakukan menggunakan tabung filter air rumahan,” jelasnya.

Pentingnya Air

Air yang bersih merupakan salah satu nutrisi makro yang krusial bagi broiler. Air yang bersih adalah air yang segar, bersuhu ruang dan terbebas dari cemaran bahan-bahan berbahaya. “Air menjalankan begitu banyak fungsi vital biokimia dalam tubuh, serta sebagai salah satu syarat utama bagi berlangsungnya proses kehidupan,” terang Raymundus Genty Laras, Nutrition Architect Manager PT Nutricell Pacific.

Broiler yang kekurangan air sebanyak 20 % dari kebutuhan- nya saja, akan menurunkan performa secara nyata pada laju pertumbuhan dan efisiensi penggunaan pakan. Apabila berlanjut selama 24 jam, maka performa akan turun sangat mencolok. Sedangkan pada kondisi 36 jam tanpa air, maka akan terlihat rontok bulu serta kematian yang signifikan. Sementara, air untuk lingkungan peternakan secara umum berperan sebagai agen pem- bersih, seperti mencuci sarana dan prasarana di kandang. Air juga berguna sebagai pembersih saluran pembuangan, mandi karyawan, mencuci mobil, mencuci kaki, wudhu dan lain sebagainya.

Hananto PT. Bantoro, Head of Marketing & Technical PT Novindo Agritech Hutama berpendapat, air merupakan sumber dari kehidupan untuk makhluk hidup. Pada broiler sebanyak 60 – 80 % komponen tubuhnya adalah air, sehingga kebu- tuhan air menjadi faktor yang utama. “Jika dibandingkan dengan pakan, sebenarnya air menjadi faktor yang paling penting untuk kelangsung- an hidup broiler. Tetapi jika dalam konteks pertum- buhan, maka pakan dan air menjadi faktor yang sama penting- nya. Kuantitas air pun diperlukan di dalam sebuah peternakan broiler, sebab ayam juga butuh asupan minum yang banyak. Selain untuk air minum broiler, air juga digunakan sebagai media sanitasi, bioseku- riti, mencuci kandang dan mencuci kaki,” paparnya.

Bagi Hindro Setyawan, Manager Animal Health Consultant PT Medion, peran air bagi peternakan broiler dibagi menjadi tiga, yaitu air untuk kebutuhan ayam, sanitasi dan desinfeksi, serta sebagai kebutuhan sehari­hari pegawai di kandang. Air memiliki peran yang sangat besar ter- hadap proses pemeliharaan broiler. Sebab tanpa air, proses pemeliharaan ayam di peternakan tidak akan berjalan.

Fungsi air bagi tubuh broiler antara lain saat transportasi darah untuk menge- darkan sari­sari makanan baik zat nutrisi maupun zat sisa metabolisme dalam tubuh, sebab mengandung molekul hidrogen dan oksigen. Secara biologis, air berfungsi seba gai media berlangsungnya proses kimia di dalam tubuh broiler. “Air juga membantu mempermu- dah proses pencernaan dan penyerapan nutrisi, respirasi, membantu pengaturan suhu tubuh, melindungi sistem syaraf maupun melumasi persendian,” terang Hindro.

Sumber Air yang Baik

Peternak mendapatkan air untuk konsumsi broiler dan perawatan kandang melalui berbagai sumber, diantaranya adalah air tanah dan sumur bor. Lokasi farm menjadi pertimbangan tersendiri guna mendapatkan sumber air yang berkualitas dan berkuantitas baik.

Menurut Hindro, terdapat beberapa jenis sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk peternakan broiler, yaitu air sumur atau air tanah, air permukaan, dan air PDAM. Air di dalam tanah dapat dimanfaat kan untuk pemeliharaan broiler melalui pembuatan sumur, baik sumur gali maupun bor (sumur artesis). Biasanya yang banyak digunakan yaitu sumur bor.

“Dalam pembuatan sumur harus memperhitungkan jaraknya dengan saluran pembuangan feses. Mengingat feses bisa menjadi sumber kontaminasi bakteri Esche- richia coli, maka lebih baik mencari jarak agak jauh atau lapisan lubang bagian dalam sumur ditutup atau dilapisi dengan semen atau pun beton,” himbau Hindro.

Hananto mengatakan sumber air minum dipengaruhi oleh lokasi dari farm. Terdapat beberapa lokasi farm yang bagus, sumber air tanahnya pun bagus. Biasanya peternak menggunakan sumber air tanah, yang berasal dari permukaan tanah.

Sumber air yang bisa digunakan pada peter- nakan broiler adalah air di bawah lapisan permukaan bumi (litosfer) atau disebut juga perairan darat. Air yang ada pada perairan darat diantaranya adalah air tanah, yang massa airnya berada di ruang antar batu atau celah batuan. Air tanah pun terbagi menjadi tiga, yaitu air dangkal (freatik) dan air tanah dalam (artesis). Je- nis perairan darat yang selanjutnya adalah air sungai, air danau dan sebagian air rawa.

Di sisi lain Ray berpendapat, pada dasarnya air untuk dikonsumsi bisa ber- sumber dari manapun. Namun, idealnya memenuhi kriteria seperti yang ditunjuk- kan pada Tabel 1. Sementara air untuk keperluan kandang disarankan tidak berasal dari daerah rawa­rawa, sebab me- miliki pH yang agak asam karena tingginya proses pembusukan serta fermentasi bahan­bahan organik yang ada.

“Umumnya, air rawa­rawa memiliki kandungan mikroorganisme yang relatif tinggi, sehingga membuat air berpotensi menjadi suatu sumber kontaminan yang sangat riskan bagi lingkungan kandang broiler. Kemudi an air yang memiliki kesadahan tinggi, secara umum mengan- dung kadar kalsium (Ca) atau magnesium (Mg) yang tinggi. Kondisi seperti ini akan mengakibatkan penyumbatan­penyum- batan pada saluran air, lalu mengganggu kelarutan dari preparat antibiotika maupun desinfektan, merusak vaksin aktif, serta mengakibatkan ayam mengalami diare yang cukup serius,” jabar Ray.

Konsumsi Air

Sandy mengaku kurang memperhi tungkan konsumsi air pada broiler, se hing ga ia selalu menyediakan air secara ad libitum (terus- menerus). Ia mengatakan bahwa kebutuhan air minum tergantung pada lokasi farm, yang terpenting air harus selalu tersedia dan jangan sampai kosong. “Misalnya untuk farm di dataran rendah yang iklimnya panas, ayam akan lebih ba nyak minum air dibandingkan dengan lokasi farm di dataran tinggi,” ujar Sandy yang memiliki farm di dataran tinggi di sekitar Majalaya, Jawa Barat ini.

Untuk tempera- tur air yang dikon- sumsi broiler, Sandy memberikannya tidak terlalu dingin dan tidak pula terlalu panas. Sedangkan untuk pemberian obat, ia meramunya menggunakan air panas. Untuk pemberiannya tidak dengan air yang panas, sehingga ketika sudah dingin baru diberikan pada broiler.

Bagi Opik, konsumsi air dihitung 2 sampai 3 kali jumlah konsumsi pakan (feed). Ia memberi contoh pada ayam umur 20 hari, dengan feed intake (kon- sumsi pakan) 150 gram per ekor per hari, maka kebutuhan air minumnya sekitar 300 ml per ekor per hari. “Apabila broiler kekurangan minum, maka akan mengalami dehidrasi dan average daily gain (ADG) tidak akan maksimal. Bahkan hal tersebut dapat berakibat pada kematian dalam jumlah yang masif,” terangnya.

Ray menjelaskan, guna memaksimal- kan pertumbuhan serta produktivitas broiler, kebutuhan air minumnya wajib untuk dipenuhi. Standar kebutuhan air minum per hari berdasarkan umur broiler dapat dilihat pada Tabel 2. Bila dilakukan pengamatan secara detail, broiler yang kekurangan minum akan terjadi pertambahan denyut jantung dan naiknya temperatur rektal, pernapasan bertambah cepat, terjadi peningkatan konsentrasi larutan darah, volume darah berkurang dan peredaran darah semakin sulit.

Ada beberapa gambaran klinis yang
dapat diamati pada ayam yang mengalami
problem dehidrasi, yaitu bobot badan umumnya sangat ringan dan ayam tampak lesu, warna bulu kadang kala tidak homogen, tidak cerah (kusam), kasar, dan cenderung keriting, sisik kaki kering dan cenderung berbentuk cembung atau cekung, tidak rata dan tidak mengkilat, turgor (elastisitas) kulit hilang dan kulit cenderung melekat pada jaringan di bawahnya serta ayam malas bergerak, mata cekung dan kelopak mata rata-rata tertutup. Tem- peratur ideal air minum broiler juga menjadi kunci keberhasilan pemelihara- an. Ray berpendapat, temperatur air minum yang ideal untuk broiler adalah pada rentang 10 0 C hingga 14 0C.

Hananto menimpali, untuk kon- sumsi air biasanya disesuaikan umur ataupun jumlah pakan yang dikonsumsi. Secara umum berkisar antara 1,7 – 2 kali dari jumlah konsumsi pakan. Misal- nya kalau jumlah pakannya adalah 100 gram, maka air minumnya 200 ml atau dikalikan 1,7. Tergantung pada kondisi- nya, sehingga secara umum adalah 1,7 – 2 kali dari konsumsi pakan. Untuk ad libitum diberikan pada awal-awal ke- hidupan broiler, karena untuk menyo- kong pertumbuhan DOC (ayam umur sehari). DOC memang membutuhkan air yang lebih untuk pertumbuhan, supaya sel-sel dalam tubuhnya dapat melakukan pembelahan sel.

Temperatur air yang dikonsumsi broiler, rata-rata 21 0 C atau 22 0 C, tetapi menurut literatur kisarannya antara 20 – 24 0C. “Itu adalah tem- peratur optimal air yang ayam mampu konsumsi secara optimal, sehingga lebih atau kurang dari itu akan mengaki- batkan gangguan konsumsi air minum bahkan dapat terhenti,” ujarnya.

Selaras dengan pernyataan Hananto, Hindro menerangkan, broiler saat ini membutuhkan minum sebanyak 1,8 – 2 kali lebih banyak dibanding makan. Konsumsi air minum broiler dapat menjadi indikasi kesehatan serta baik atau buruknya praktik manajemen pemelihara- an. “Biasanya pemberian air minum harian dilakukan secara ad libitum. Namun ketika konsumsi air minum broiler menurun, maka kita harus segera mengevaluasi ke- mungkinan penyebabnya,” ujar Hindro.

Kesehatan Usus

Air yang layak dikonsumsi bagi broiler akan membantu dalam banyak hal, diantaranya pada saat kondisi stres akibat gerah (temperatur dan kelembapan tinggi), vili­vili pada usus halus akan rusak. Air yang dikonsumsi broiler dapat membantu menurunkan efek rusak tersebut dengan proses yang dinamakan homeostasis. Air juga membantu distribusi nutrisi­nutrisi baik pada saat proses pencernaan maupun proses penyerapan di usus halus.

“Air yang dikonsumsi broiler akan membantu proses pencernaan biokimia dalam usus halus melalui proses yang dinamakan hidrolisis, contohnya adalah pencernaan sukrosa oleh enzim sukrase dengan cara hidrolisis (gula terlarut dalam air). Air juga dapat membantu memperta- hankan bentuk sel­sel vili di usus halus agar normal (tidak mengerut atau tidak mengembang), misalnya pada saat kondisi pakan dengan kadar salinitas terlalu tinggi maka sel­sel usus akan mengerut. Hal ini dapat dicegah oleh hadirnya air yang akan mengurangi dampak buruk tersebut. Air turut pula membantu melunakkan zat­zat sisa di usus besar agar mudah dikeluarkan dari tubuh,” jelas Ray.

Hananto mengatakan secara fisiologis air berfungsi sebagai media berlangsung- nya proses kimiawi di dalam tubuh ayam. Air sebagai media transportasi zat nutrisi maupun sisa metabo- lisme ke seluruh organ, serta membantu dalam proses digesti dan absorpsi nutrisi.

“Proses pembelahan sel membutuh- kan air dan juga untuk nutrisi sel­sel di dalam intestine. Bila kebutuhan air minum tersebut tidak terpenuhi, otomatis terjadi hambatan pertumbuhan bobot badan. Misalnya semua standar berjalan dengan baik, tetapi pertumbuhannya terlambat. Ternyata ketika dicermati, konsumsi air minumnya kurang,” papar dia.

Mekanisme Kerja Air

Tubuh ayam terutama DOC sebesar 80 % mengandung komponen air. Maka bila kekurangan minum akan menyebab- kan laju pertumbuhan terhambat. Untuk tahap awal kehidupan, broiler membutuh air dalam jumlah ad libitum. Sebab pada fase DOC akan terjadi pembelahan sel yang dilanjutkan dengan pengembangan sel.

Menurut Ray, ketidak hadiran air pada sel akan sangat berpengaruh pada perda- ging an broiler sebab 80 % sel mengandung air. Perlu diingat bahwa air merupakan makro nutrisi kedua setelah oksigen yang mutlak diperlukan untuk hidup ayam. “Air terlibat dalam banyak hal seperti pencerna- an, penyerapan, metabolisme, produksi air, ekskresi keringat, sekresi urine serta feses ke luar tubuh,” terang Ray.

Hindro turut berkomentar, dalam proses pertumbuhan broiler air mempunyai fungsi fi siologis guna membantu penyerap- an nutrisi dan pencernaan pakan serta mengangkut zat nutrisi yang akan diedarkan ke seluruh tubuh melalui darah. Efek pemberian segera air minum untuk DOC, yaitu usus yang lebih panjang membuat penyerap an nutrisi dalam pakan menjadi lebih baik.

“Sedangkan untuk broiler dewasa dalam penelitian yang sama, ketika DOC yang paling cepat diberi pakan dan minum setibanya di kandang, ternyata total konsumsi pakannya selama 35 hari paling sedikit (2.810 gram per ekor). Akan tetapi menghasilkan pertambahan bobot badan yang paling besar. Rata­rata bobot badan kelompok ayam yang tercepat diberikan pakan dan minum setiba di kandang, sehing- ga pada umur 35 hari bisa mencapai lebih dari 2.200 gram per ekor,” papar dia.

Kualitas Air

Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki dua musim, yaitu hujan dan kemarau. Perubahan musim sering kali mempengaruhi kualitas air. Seperti yang dirasakan oleh Sandy, saat musim hujan air menjadi agak keruh. Maka itu, Sandy menggunakan fi lter agar air bersih kembali. “Ketika musim kemarau debit airnya berkurang, sehingga cukup sulit untuk mendapatkan air. Jika cukup urgen, biasanya membeli air isi ulang. Sedangkan saat peralihan musim dari kemarau ke hujan, bakteri Escherichia coli di dalam air meningkat,” ungkapnya.

Begitu pula yang dialami dengan Opik, saat musim hujan permukaan tanah menjadi turun, airnya pun menjadi keruh. Bakteri Escherichia coli banyak, sehingga perlu banyak dilakukan perlakuan dengan mengendapkan air. Setelah itu disaring, lalu terakhir yang wajib dilakukan yaitu klorinasi. Ketika musim kemarau, air secara fi sik dan kimiawi baik. Hanya di musim kemarau yang menjadi masalah adalah kuantitasnya. Jika kuantitas air kurang, biasanya menggunakan sumber air tambahan sebab peternak wajib memiliki cadangan (back up) air.

“Ada pula peternak yang membeli air, seperti di daerah Langsa. Peternak menggunakan tangki air yang dibeli melalui PDAM. Karena tidak semua tempat airnya juga tersedia dengan cukup ketika musim kemarau. Walaupun sebetulnya secara kualitas, bakteri Escherichia coli dan lain sebagainya di musim kemarau relatif lebih sedikit,” terang Opik.

Bagi Hindro, peningkatan curah hujan tentu akan menambah volume air tanah. Meski jumlahnya bertambah, hal ini justru sering memicu masalah baru yaitu penurunan kualitas air dan keterbatasan daya serap air tanah. Penurunan kualitas air secara fisik yakni keruh, berbau, dan bercampur lumpur. “Air tanah yang bercampur dengan lumpur akan memper- mudah penyumbatan pipa-pipa air minum, sehingga memicu terbentuknya biofilm tempat tumbuh dan berkembangnya bibit penyakit. Terbatasnya daya serap air oleh tanah membuat timbulnya genangan air ataupun banjir, sehingga bisa menjadi tempat ideal untuk berkembangbiaknya parasit, bahkan bakteri terutama Escheri- chia coli,” jelasnya.

Di musim kemarau, debit air permu- kaan memang akan berkurang. Namun tidak berarti keberadaan Escherichia coli berkurang. Pada suhu lingkungan tinggi, perkembangan bibit penyakit di dalam insta- lasi saluran air biasanya menjadi lebih cepat.

Hananto menyampaikan, saat musim hujan air melimpah sehingga limbah atau kontaminan bisa terbawa air dengan mudah. Namun, seringkali secara fisik air pada musim hujan di banyak lokasi terjadi penurunan kualitas secara fisik, yakni perubahan warna, endapan lumpur dan berbau. Jika air tersebut ingin diberikan untuk konsumsi broiler, maka diperlukan pengolahan air yang memadai. Sedangkan saat musim kemarau, debit air sudah pasti terbatas atau sedikit. Sehingga, pengencer- an terhadap bahan-bahan yang terserap, seperti kontaminan-kontaminan di dalam tanah konsentrasinya lebih tinggi.

Ray menambahkan, salinitas dan temperatur adalah faktor lingkungan yang sangat dipengaruhi oleh musim. Salinitas atau kadar garam adalah banyaknya garam- garaman yang terdapat dalam air. “Salinitas umumnya stabil, namun di beberapa tempat terjadi fluktuasi akibat beberapa faktor, antara lain penguapan, makin besar tingkat penguapan di suatu wilayah, maka salinitas- nya tinggi, dan sebaliknya pada daerah yang tingkat penguapannya rendah salinitasnya rendah. Lalu curah hujan, makin tinggi curah hujan, maka salinitas makin rendah sebaliknya makin rendah curah hujan maka salinitas makin tinggi. Demikian pula dengan temperatur, air di tempat penyimpanan cenderung lebih hangat pada saat kemarau ketimbang penghujan, berlaku juga seba- liknya,” terangnya.

Tempat Air Minum

Air minum yang dikonsumsi oleh broiler dipengaruhi pula oleh jenis tempat minum (drinker) yang digunakan. Ray menjelaskan, jenis tempat minum yang baik pada dasarnya harus terbuat dari bahan yang tidak beracun, tahan terhadap panas dan asam (korosif), mudah dibersihkan, dan tidak mudah rusak atau pun pecah.

Menurut Hananto, jenis pendistribusi- an air minum secara umum terbagi menjadi 2, yaitu open system dan closed system. Open system terdiri dari model galon, cup drinker dan automatic bell drinker, sedang- kan closed system yaitu model nipple drinker. Nipple drinker jika dibandingkan dengan model tempat minum lain, risiko kontaminasinya lebih kecil. Namun, investa- sinya lebih mahal dan lebih rumit untuk pembersihannya meski tidak setiap hari. Perlu dilakukan flushing pada pipa-pipanya.

Hindro menambahkan, yang terpen- ting adalah peternak bisa memilih jenisnya sesuai dengan kebutuhan dan anggaran biaya pemeliharaan yang dimiliki. “Bebera- pa jenis tempat minum broiler sistemnya ada yang manual, semi otomatis, hingga otomatis, sehingga peternak bisa memilih jenisnya,” ujar dia.

Penglolaan Air

Guna mengelola sumber air supaya tidak terbuang sia-sia, Hananto mengatakan sebaiknya sumber air tidak hanya satu. Jalur distribusi air dari sumber menuju tandon (water storage) utama, harus lancar dan mudah dibersihkan sewaktu- waktu. Demikian halnya jalur dari tandon ke kandang, kapasitas tandon cukup untuk kebutuhan minimal 48 jam. “Hal yang perlu diperhatikan adalah tempat air minum. Pastikan tidak ada kebocoran dari jalur tersebut dengan menjaga atau memproteksi lingkungan sumber air tanah,” kata dia.

Hananto mengimbuhkan, konservasi air tanah dapat dilakukan yaitu dengan membuat sumur resapan, supaya jika ada air hujan dapat dengan cepat meresap dan tidak menimbulkan genangan di permuka- an tanah. Manfaat dari sumur resapan ini adalah bisa sebagai cadangan sumber air disaat musim kemarau. Terakhir adalah perawatan pipa atau saluran air juga meru- pakan hal yang penting.

Hindro menimpali, air untuk proses pembersihan kandang dan peralatannya bisa digunakan secukupnya terutama saat awal dan akhir pemeliharaan (cuci kandang), mencuci tempat ransum dan minum yang rutin dilakukan setiap 2 kali seminggu. Dia menyarankan agar meng- gunakan air untuk keperluan obat atau vaksinasi sesuai kebutuhan.

“Pastikan instalasi saluran air serta tempat minum secara otomatis tidak mengalami kebocoran, sehingga air yang tidak terbuang dan membuat genangan di sekitar kandang. Sediakan watermeter untuk mengontrol kebutuhan air secara periodik, misalkan per bulan. Saat ada lon- jakan penggunaan air bisa diperiksa kondisi broiler (bisa jadi heat stress), instalasi peralatan (meminimalkan kebocoran). Tak lupa untuk mengupayakan tempat minum jenis galon selalu penuh agar tidak mudah tumpah,” saran Hananto.

Penggunaan sistem nipple drinker pada pemberian air minum akan mengu- rangi tingkat pemborosan air. Sebab air mi- num hanya akan keluar apabila ditekan oleh mulut broiler. “Pemasangan sistem nipple drinker harus dilakukan dengan baik dan benar agar tidak bocor yang di kemudian hari akan menyebabkan kerugian terutama untuk kesehatan ayam,” himbau Ray.

Sistem Drainase

Drainase yang baik berfungsi untuk mencegah genangan air yang kelak men- jadi tempat tumbuh bagi cemaran yang dapat mengganggu produktivitas broiler. Beberapa cara dilakukan untuk menjaga kandang dan sekelilingnya tetap kering. “Supaya drainase bekerja dengan baik, maka kandang harus dibangun pada bagian tanah yang tinggi dari sekelilingnya. Pada saat hujan, air tidak akan masuk dan menggenangi bagian dalam kandang. Selan- jutnya, dibuat saluran pembuangan air atau drainase di sekeliling kandang,” papar Ray.

Hananto berpendapat, drainase memi- liki manfaat tersendiri yaitu dapat mengu- rangi kelebihan air. Drainase sebagai saluran pembuangan air, yang dapat mengalihkan air dari tempat tertentu ke yang lebih rendah. Juga untuk mengontrol kualitas sumber air tanah, menjaga kelembapan di kandang, menurunkan permukaan air ta- nah, dan mengurangi timbulnya kerusakan pada kandang.

Drainase bagi suatu peternakan sangatlah penting dan harus diperhatikan. Posisi kotoran ayam terhadap tanah sekitar- nya pun harus diperhatikan. Pembuatan resapan air dan parit di sekitar kandang sangat diperlukan. Sehingga jika terjadi tumpahan air, jangan sampai menggenang karena akan berpotensi menjadi becek dan akan meningkatkan kelembapan di sekitar kandang.

“Resapan yang kurang memadai akan meningkatkan kumulasi dari berbagai mikroorganisme serta endoparasit dan ektoparasit, sehingga memicu sejumlah kasus infeksi, karena penyebarannya bisa dari mana saja. Banyaknya genangan air akan mengubah filtrasi tanah, yang mem- buat pori-pori tanah membesar dan akan terjadi penetrasi bakteri patogen terutama Escherichia coli pada sumber air tanah,” urai Hananto.

Menurut Hindro, drainase yang baik di kandang broiler ialah sistem pengaliran airnya lancar dan tidak menimbulkan kebo- coran atau pun genangan air. Sistem drain- ase yang baik didukung dengan tata letak kandang yang sebaiknya ditempatkan lebih tinggi sekitar 20-30 cm dari lahan sekitar- nya. “Sistem drainase yang kurang baik akan menimbulkan genangan air di sekitar kandang. Terlebih jika genangan air berada tepat di bawah kandang yang juga terdapat timbunan feses. Alhasil feses menjadi becek dan menimbulkan sejumlah masalah seperti berkembang biaknya bibit virus atau bakteri penyebab penyakit,” jelasnya.

Pada kandang postal, Hindro menam- bahkan, ketidaklancaran drainase bisa menyebabkan kelembapan di sekitar litter, sehingga rentan menggumpal. Litter yang menggumpal harus dihindari karena meru- pakan tempat akumulasi amonia di dalam kandang.