PT Nutricell Pacific melepas obat hewan untuk diekspor ke Vietnam senilai 177.800 USD

PT Nutricell Pacific melepas obat hewan untuk diekspor ke Vietnam senilai 177.800 USD
Maret 9, 2021 Nutricell
In Uncategorized

P T Nutricell Pacific (Nutricell) melebarkan sayapnya di kancah industri obat hewan global. Ber- tempat di Kawasan Industri Taman Tekno, Serpong, Tangerang (6/2), perusahaan yang baru berdiri pada 2012 ini melepas satu kontainer obat hewan berupa suplemen vitamin ke negara Vietnam. Total ekpor perdana ini sebanyak 6,8 ton obat senilai 177.800 USD (atau setara dengan Rp 2,5 miliar).

Pelepasan tersebut disaksikan langsung oleh Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Ditjen PKH Fini Murfiani, Kasubdit Pengawasan Obat Hewan Ni Made Ria Isriyanti, Dinas Peternakan setempat dan tamu undangan.

“Selamat dan apresiasi tinggi untuk Nu- tricell, karena telah berhasil melakukan ekpor perdana ke Vietnam. Semoga menjadi pemacu bagi perusahaan obat hewan lainnya, dan khususnya untuk Nutricell semakin mening- katkan volume serta nilai jual ke depannya,” ucap Fini, yang mewakili Dirjen PKH.

Dalam acara seremonial tersebut, Nutricell mengambil tag line ‘Feeding the Nation – Nourishing The World’, yang berarti kehendak Nutricell untuk berperan dalam menyediakan pangan nasional serta menyediakan produk bernutrisi bagi dunia. Hal ini menjadi salah satu cita-cita besar perusahaan obat hewan dan nutrisi ternak terkemuka ini.

Dalam sambutannya, CEO PT Nutricell Pacific Suaedi Sunanto menyampaikan rasa bangganya dapat mewujudkan cita-cita pe- rusahaan tersebut. “Hari ini adalah momen yang sangat berarti bagi kami, karena pertama kalinya melepas kontainer untuk tujuan ekspor. Mudah-mudahan semuanya berjalan dengan lancar,” ungkapnya dengan bangga.

Vietnam dipilih karena Nutricell melihat ada potensi pasar disana. Konsumen relatif sama, kondisi industri peternakan dan iklim yang mirip menjadi pertimbangan selanjutnya. Ekspor perdana ini menjadi batu loncatan Nutricell untuk merambah pasar yang lebih luas lagi.

Suaedi menilai industri obat hewan tanah air cukup kompetitif untuk bersaing di pasar global, karena ketersediaan tenaga terdidik dan tenaga terampil. Ada be- berapa jenis obat hewan yang sangat inovatif dan berkembang cepat, seperti feed supplement. Indonesia berpeluang besar untuk masuk di pasar tersebut karena tenaga-tenaga ahli Indo- nesia mampu melakukannya.

Turut berbicara Guru Besar Departemen Agribisnis IPB Rachmat Pambudi bahwa di te- ngah kondisi industri yang sulit, ternyata ada perusahaan yang bisa menyumbangkan ekspor. Nantinya perusahaan seperti inilah yang akan menjadi ujung tombak kuatnya devisa negara.

“Kalau sudah berani untuk ekspor, menunjukkan bahwa Nutricell sudah berani beradu dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Semoga ke depannya Nutricell akan mengekspor lebih banyak lagi. Saya yakin sumber daya manusianya memiliki kom- petensi untuk mewujudkannya,” tuturnya.

Kementan mencatat, dalam kurun waktu 2015 sampai 2018, nilai ekspor obat hewan mencapai Rp 23,54 triliun. Kemudian terdapat 10.231 juta dosis sediaan biologik, farmasetik, premiks, dan bahan baku obat hewan. Kuantitasnya mencapai 635,79 ribu ton.

Negara tujuan ekspor obat hewan juga meningkat 35 persen. Pada 2015 jumlah tujuan ekspor sebanyak 69 negara. Saat ini sudah bertam- bah menjadi 93 negara. “Nilai ekspor obat hewan yang terus meningkat setiap tahun tidak terlepas dari adanya penjaminan mutu, khasiat, dan keamanan obat hewan tersebut. Mudah-mudahan dengan masuknya Nutricell makin kuat lagi ekspor kita” harap Fini.

Fondasi yang Kuat

Nutricell adalah produsen dan distributor dari berbagai macam feed additive seperti vitamin, mineral, premiks, enzim, prebiotik, acidifier dsb. Bekerja sama dengan perusahaan- perusahaan seperti: DSM Nutritional Products, Novus International, Wisium, serta beberapa perusahaan kelas berskala internasional lainnya. Kerjasama tersebut dilakukan dalam upaya menghadirkan produk solutif unggulan kelas dunia berdasarkan penelitian dan pengembang- an yang presisi dan akurat untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Dalam menghadapi persaingan di industri peternakan yang semakin kompetitif, Nutricell memegang teguh 4 pilar utamanya. Analisis data, analisis laboratorium, material sourcing, serta design and manufacturing.

Dijelaskan Suaedi, analisis data akan men- jadi sumber kekuatan di industri peternakan ke depan. “Melalui analisis data, kita dapat melihat performa ternak, kemungkinan timbulnya pe- nyakit, dan sebagainya. Untuk itu Nutricell telah memulai memperkuat kompetisi analisis data agar tidak ketinggalan nantinya,” sebutnya.

Analisis Laboratorium juga menjadi fon- dasi Nutricell dalam menghadapi persaingan. Perusahaan ini telah dilengkapi laboratorium NIRs yang dapat menganalisa bahan baku pakan, nutrisi produk, dan bahan-bahan baku lainnya. “Saat ini kami sudah mampu menganalisa bahan baku premiks dan vitamin dengan menggunakan NIRs. Metode ini sangat strategis dan efisien,” kata Suaedi.

Fasilitas produksi yang dimiliki Nutricell, ia menerangkan telah mengadopsi prinsip-prinsip cara produksi yang baik (Good Manufacturing Practise/GMP) serta meingikuti kaidah cara pembuatan obat hewan yang baik (CPOHB) yang terakreditasi oleh Pengawas Obat Hewan (POH), Kementerian Pertanian Indonesia. Hal ini adalah sebagai bukti bentuk tanggung ja- wabnya kepada pelanggan untuk menghadirkan produk yang berkualitas secara berkelanjutan.

Nutricell percaya bahwa produk yang baik secara kualitas dan aman untuk ma- syarakat akan menghasilkan protein hewani yang sehat, produktif dan bergizi. Sehingga menjaga kesehatan ternak merupakan prioritas utamanya, yaitu dengan cara memberikan nutrisi dan solusi yang bermutu secara cukup dan seimbang sesuai kebutuhan dengan biaya terjangkau.

“Melalui riset dan teknologi yang dimiliki, kami ingin berperan menyediakan protein bagi bangsa dan dunia. Salah satunya dengan membantu peternak memberikan formulasi pakan, membantu mendesainkan agar nutrisi lebih tepat dan optimal, sehingga penggunaan sumber daya akan lebih maksimal. Pada akhirnya hasil usaha peternak akan lebih meningkat,” pungkas Suaedi.